![]() |
| Sumber foto: Dok. Luthfiya Najwa/@fiyanajwa_ |
Zahro, Martapura 2026 - Sebanyak 16 mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAI Darussalam Martapura mengikuti Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan Islam yang diselenggarakan Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin pada Sabtu (17/10/2026). Kegiatan berlangsung pukul 10.00–13.00 WITA di Aula Jeddah, Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin, dengan pendampingan dosen Muhammad Isa Anshari, M.Pd.
Seminar tersebut membahas moderasi beragama dan literasi digital dalam mencegah intoleransi serta radikalisme di ruang siber. Kegiatan ini dihadiri oleh dosen, guru, mahasiswa, serta perwakilan dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga di Kalimantan Selatan.
![]() |
| Sumber foto: Dok. Muhammad Nabil Arifin |
Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan sambutan sejumlah pejabat dan tamu undangan. Dekan UIN Antasari Banjarmasin, Dr. H. Hamdan, M.Pd., mengingatkan pentingnya kebijaksanaan dalam menggunakan media sosial. Menurutnya, mahasiswa perlu memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan informasi positif dan menunjukkan wajah Islam yang harmonis serta menyejukkan.
Sambutan Rektor UIN Antasari, Prof. Dr. Hj. Nida Mufidah, M.Pd., disampaikan oleh Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian, Dr. H. Zainal Ilmi, S.Ag., M.Pd.I. Dalam sambutan tersebut, dunia digital disebut sebagai “ruang kelas kedua” yang memberikan peluang bagi pengembangan pembelajaran, tetapi juga memiliki tantangan berupa penyebaran hoaks dan konten ekstrem.
Ia menekankan pentingnya menerapkan prinsip BKM, yaitu Bijak, Kritis, dan Moderat, baik di dunia maya maupun dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa juga diingatkan agar melakukan tabayyun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.
Sementara itu, H. Sandi Fitrian Noor, S.T., M.M., Anggota DPR RI Komisi VIII, turut memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan. Ia menyoroti penyebaran hoaks, provokasi, dan propaganda intoleransi yang dapat menyasar generasi muda melalui media sosial.
“Hoaks, provokasi, propaganda intoleransi, kini dikemas dengan sangat menarik untuk menyasar generasi muda dan para pengguna media sosial. Jika generasi muda tidak dibekali literasi digital dan pemahaman agama yang inklusif, perbedaan pendapat kecil di dunia maya bisa menjadi pemantik gesekan sosial di dunia nyata,” ujar beliau.
Kutipan tersebut diambil dari berita resmi UIN Antasari berjudul “Kolaborasi UIN Antasari, Kemenag, dan Komisi VIII DPR RI: Perkuat Moderasi Beragama dan Literasi Digital Mahasiswa di Era AI”, yang diterbitkan pada 17 Oktober 2026. Berita selengkapnya dapat dibaca melalui https://www.uin-antasari.ac.id/kolaborasi-uin-antasari-kemenag-dan-komisi-viii-dpr-ri-perkuat-moderasi-beragama-dan-literasi-digital-mahasiswa-di-era-ai/.
![]() |
| Sumber foto: Dok. uin-antasari.ac.id |
Ia juga menjelaskan bahwa moderasi beragama dapat diterapkan melalui komitmen kebangsaan, toleransi, sikap antikekerasan, serta sikap akomodatif terhadap budaya. Nilai-nilai tersebut penting untuk menjaga keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat, termasuk dalam interaksi di ruang digital.
Dekan Fakultas Tarbiyah IAI Darussalam Martapura, Drs. H. Sofrayani, M.Pd.I., menyambut baik keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan tersebut. Ia menilai seminar di luar kampus dapat memperluas wawasan mahasiswa dan meningkatkan pemahaman mereka terhadap tantangan pendidikan Islam pada era digital.
“Keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan seperti ini sangat positif karena dapat menambah wawasan, pengalaman, dan pemahaman mereka mengenai pentingnya moderasi beragama serta literasi digital. Sebagai calon pendidik, mahasiswa Fakultas Tarbiyah diharapkan mampu bersikap bijak dalam menggunakan teknologi, berpikir kritis dalam menerima informasi, serta menanamkan nilai-nilai Islam yang moderat, toleran, dan membawa kedamaian di tengah masyarakat," ungkap beliau.
Melalui keikutsertaan dalam seminar ini, mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAI Darussalam Martapura diharapkan dapat memperluas pengetahuan, meningkatkan literasi digital, serta mengembangkan sikap moderat dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial. Pengalaman tersebut juga menjadi bekal bagi mahasiswa sebagai calon pendidik dalam menghadapi perkembangan teknologi dan tantangan pendidikan Islam di masa mendatang.
.jpeg)




