Assalamualaikum wr. wb.
Perkenalkan nama saya Muhammad Khairi Maulidi NPM 24126401 dari Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah saya ingin berbagi cerita kenapa saya ingin memilih konsentrasi qurdis.
Sejak duduk di bangku madrasah, pelajaran Al-Qur'an dan Hadis selalu menjadi salah satu mata pelajaran yang menarik bagiku. Suatu hari, guru menjelaskan bahwa Al-Qur'an dan hadis bukan hanya dipelajari untuk mendapatkan nilai di sekolah, tetapi juga harus dipahami maknanya dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Penjelasan itu membuatku berpikir bahwa ilmu tersebut bukan sekadar hafalan, melainkan pedoman hidup bagi setiap muslim. Sejak saat itu, tumbuh rasa ingin tahuku untuk mengenal Al-Qur'an dan hadis lebih dalam
Penjelasan itu membuatku berpikir bahwa ilmu tersebut bukan sekadar hafalan, melainkan pedoman hidup bagi setiap muslim. Sejak saat itu, tumbuh rasa ingin tahuku untuk mengenal Al-Qur'an dan hadis lebih dalam
Ketika tiba saatnya memilih konsentrasi kuliah, aku mulai mempertimbangkan berbagai pilihan. Salah satunya adalah konsentrasi Qur'an dan Hadis (Qurdis). Namun, aku merasa ragu. Dalam benakku terbayang banyaknya hafalan yang harus dipelajari dan dipahami. Aku khawatir tidak mampu menghafal ayat-ayat maupun hadis dengan baik. Meski begitu, setelah berpikir cukup lama, aku tetap memasukkan Qurdis sebagai pilihan karena merasa tertarik untuk mempelajarinya.
Suatu sore, dalam perjalanan menuju masjid bersama ayah, kami berbincang tentang pilihan konsentrasi. Ayah bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, "Kamu memilih konsentrasi apa?"
Dengan santai aku menjawab, "Akidah Akhlak."
Mendengar jawabanku, ayah terdiam sejenak. Beliau kemudian berkata dengan nada lembut, "Ayah sebenarnya berharap kamu mengambil Qurdis. Kalau belajar Al-Qur'an dan hadis dengan sungguh-sungguh, insyaallah akan lebih mudah menjadi imam dan membimbing masyarakat."
Ucapan ayah membuatku merenung. Aku menyadari bahwa harapan beliau bukan sekadar agar aku memiliki gelar, tetapi agar aku memiliki bekal ilmu agama yang lebih kuat. Setelah mempertimbangkan kembali, akhirnya aku memutuskan untuk memilih konsentrasi Qurdis.
Meskipun keputusan itu sudah kuambil, rasa ragu masih sering muncul. Aku belum yakin mampu menghafal banyak ayat dan hadis. Namun, aku percaya setiap perjalanan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Aku bertekad untuk menghafal sedikit demi sedikit, membaca Al-Qur'an dan hadis secara rutin, serta terus belajar dengan sungguh-sungguh.
Kini aku menyadari bahwa memilih Qurdis bukan hanya tentang menghadapi banyak hafalan, tetapi juga tentang membentuk diri agar lebih dekat dengan Al-Qur'an dan hadis. Dengan niat yang tulus, usaha yang terus dilakukan, serta doa dari kedua orang tua, aku yakin Allah akan memudahkan setiap langkahku dalam menuntut ilmu.
Muhammad Khairi Maulidi, NPM. 24126401
Mahasiswa PS. PAI Angkatan 2024
.jpeg)

