CERITA MAHASISWA: DI UJUNG SANAD, AKU MENEMUKAN CINTA~~~

0


Assalamu’alaikum wr wb

Perkenalkan, nama saya Muhammad Amin Fadhilah NPM.24126418, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, IAI Darussalam Martapura. Melalui cerpen yang berjudul “Di Ujung Sanad, Aku Menemukan Cinta”, saya ingin berbagi kisah tentang kecintaan terhadap ilmu hadits, sanad, serta keindahan hubungan guru dan murid dalam menjaga warisan Rasulullah ﷺ.

Ada ilmu yang tidak hanya dibaca oleh mata,

tetapi diwariskan dari hati kepada hati.

Ada kalam yang tidak sekadar tertulis dalam lembaran,

tetapi mengalir melalui lisan para perawi,

dari seorang guru kepada muridnya,

dari satu generasi menuju generasi berikutnya,

hingga sampai kepada Rasulullah ﷺ.


Itulah ilmu hadits.


Ilmu yang mengajarkanku

bahwa sebuah kalimat tidak cukup hanya indah,

ia harus memiliki asal.

Sebuah riwayat tidak cukup hanya terdengar menakjubkan,

ia harus diketahui dari siapa ia datang,

siapa yang membawanya,

siapa yang meriwayatkannya,

dan bagaimana perjalanan kalimat itu

menembus zaman demi zaman.


Di sana aku mengenal sanad,

untaian nama yang bagi sebagian manusia mungkin tampak sederhana,

namun bagi pecinta hadits

ia adalah jalan menuju cahaya.


Fulan meriwayatkan dari fulan,

dari fulan,

dari gurunya,

hingga akhirnya sebuah mata rantai

berujung kepada Rasulullah ﷺ.


Betapa indahnya sebuah ilmu

yang bahkan nama-nama manusia di dalamnya

dijaga dan diteliti dengan begitu jeli.

Mereka menimbang kejujuran,

meneliti hafalan,

membandingkan riwayat,

memeriksa pertemuan guru dan murid,

hingga lahirlah sebuah disiplin ilmu

yang begitu halus sekaligus begitu kokoh.


Lalu aku mengenal hadits musalsal.


Ah, musalsal...


Seakan sanad bukan lagi sekedar rangkaian nama,

tetapi sebuah perjalanan yang memiliki denyut.

Ada sesuatu yang berulang dari seorang guru

kepada muridnya,

lalu diwariskan kembali kepada murid berikutnya.


Ada senyum yang diwariskan,

ada jabat tangan yang diteruskan,

ada doa yang disampaikan,

ada cara tertentu yang dipertahankan,

ada sifat yang terus mengalir

bersama perjalanan sanad di setiap zaman.


Di antara keindahannya

ada Musalsal bil-Awwaliyyah,

yang mengingatkan tentang hadits pertama

yang diterima seorang penuntut ilmu dari gurunya.


Ada Musalsal bil-Mahabbah,

yang membuat ilmu terasa bukan sekedar hafalan,

melainkan pertemuan antara cinta dan amanah.


Ada Musalsal Burthulah,

dengan keunikannya yang diwariskan

dalam mata rantai para perawi.


Ada pula Musalsal Imamah,

dan berbagai bentuk musalsal lainnya

yang membuat perjalanan sanad

terasa begitu hidup dan berwarna.


Aku semakin mencintai ilmu ini.


Sebab semakin kupelajari hadits,

semakin kusadari bahwa ilmu

bukan hanya tentang mengetahui,

tetapi tentang menghormati siapa

yang membawa pengetahuan itu kepada kita.


Guru bukan sekadar pintu ilmu.

Guru adalah mata rantai amanah.


Dan murid bukan sekedar penerima.

Murid adalah penjaga warisan.


Maka ketika sebuah sanad kubaca,

aku seakan sedang berjalan menembus waktu.

Aku membayangkan majelis-majelis ilmu,

para ulama yang duduk dengan penuh khusyuk,

tinta yang menghitamkan lembaran,

pena yang mencatat nama-nama perawi,

dan hati yang bergetar

ketika sebuah hadits dibacakan.


Betapa agung warisan ini.


Di antara jutaan kalimat yang pernah diucapkan manusia,

ada kalimat yang dipelihara oleh umat ini

dengan ketelitian luar biasa.


Dan di antara sekian banyak jalan menuju ilmu,

aku menemukan jalan yang membuat hatiku terpaut:


jalan hadits,

jalan sanad,

jalan para guru,

jalan para perawi,

jalan yang pada akhirnya

membawaku semakin dekat

kepada Rasulullah ﷺ.


Karena itu,

jangan tanyakan mengapa aku mencintai hadits musalsal.


Bagiku, hadits musalsal bukan hanya sebuah istilah dalam kitab Musthalah al-Hadits.


Ia adalah kisah tentang kesinambungan.

Tentang amanah.

Tentang guru dan murid.

Tentang cinta yang diwariskan bersama ilmu.


Dan setiap kali sebuah sanad kubaca,

aku merasa sedang mendengar

bisikan sejarah yang berkata:


“Jangan biarkan mata rantai ini terputus.”


Maka akan kujaga ilmu ini

dengan cinta,

dengan adab,

dengan ketelitian,

dan dengan rasa syukur.


Sebab mungkin aku tidak hidup

di zaman para sahabat.

Tetapi melalui sanad,

aku masih dapat mengetuk pintu warisan mereka.


Dan mungkin aku tidak pernah melihat

wajah Rasulullah ﷺ,

namun melalui hadits dan sanad,

hatiku masih dapat mengenang beliau.


Di ujung sanad itu,

aku menemukan ilmu.


Di dalam ilmu itu,

aku menemukan adab.


Di dalam adab itu,

aku menemukan cinta.


Dan di dalam cinta kepada hadits,

aku menemukan sebuah kerinduan

yang tidak pernah selesai.


Kerinduan untuk terus belajar,

terus meriwayatkan,

terus menjaga amanah,

dan terus berjalan, 

hingga suatu hari

mata rantai kehidupanku sendiri berakhir,

sementara sanad itu

tetap mengalir

kepada generasi setelahku.


Itulah cintaku kepada hadits.


Itulah cintaku kepada sanad.


Dan itulah sebabnya

aku begitu mencintai hadits musalsal.~~~


{PANTUN HADITS MUSALSAL}

"Perahu kecil berlayar perlahan,

Mengikuti ombak menuju dermaga,

Sanad musalsal bagai untaian,

Menghubungkan hati kepada Sayyidil Musthofa"


"Burung merpati terbang ke taman,

Hinggap sebentar di atap rumah,

Musalsal indah sepanjang zaman,

Sanad terjaga membawa hikmah"


"Mawar merah harum mewangi,

Mekar indah di tepi taman,

Semakin belajar semakin mencintai,

Musalsal menjadi penawar kerinduan"


"Embun pagi jatuh ke telaga,

Disapa mentari penuh cahaya,

Musalsal bil Awwaliyyah sungguh mulia,

Hadits pertama membuka cahaya"


"Angin sepoi menggoyang ilalang,

Harum melati memenuhi ruangan,

Musalsal bil Mahabbah menenangkan sayang,

Mengikat guru dan murid dalam keimanan"


"Pohon kurma tumbuh berjajar,

Buahnya ranum dipetik bersama,

Musalsal Imamah terus beredar,

Menjadi saksi amanah para ulama"


"Cahaya bintang menghiasi malam,

Cahayanya indah sepanjang masa,

Musalsal Burthulah tersimpan mendalam,

Warisan ulama yang penuh makna"


"Bulan sabit tampak bercahaya,

Menghias langit di malam sunyi,

Setiap musalsal menyimpan cerita,

Tentang adab, cinta, dan tradisi"



Penulis: 

Muhammad Amin Fadhilah, 

NPM.24126418 

Mahasiswa PS. PAI 

Angkatan 2024

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)