Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Perkenalkan, nama ulun Noor Syifa Izzatur Rahmah NPM. 24126298 dari Program Studi Pendidikan Agama Islam. Pada kesempatan ini, ulun akan menceritakan pengalaman yang paling berkesan ketika mendapat kesempatan menjadi bagian dari paduan suara dalam rangka memperingati HUT RI ke-81 di Kampus IAI Darussalam Martapura, sekaligus mendapat kepercayaan untuk menjadi seorang dirigen.
Pagi itu, suasana terasa berbeda. Menjelang peringatan HUT RI ke-81, mendapat kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam paduan suara. Bagi ulun, kesempatan itu menjadi pengalaman nang sangat berkesan. Awalnya, ulun merasa gugup dan kada yakin apakah ulun kawa menjalankan tugas dengan baik. Apalagi, ulun mendapat kepercayaan untuk menjadi dirigen.
Ketika pertama kali diberitahu, hati ulun langsung dipenuhi rasa khawatir. “Kawa kah ulun memimpin kawan-kawan?” pertanyaan itu terus terlintas di pikiran. Ulun takut salah memberikan aba-aba, takut kada kawa menjaga tempo lagu, dan takut membuat penampilan paduan suara menjadi kada maksimal.
Namun, guru dan kawan-kawan terus memberikan semangat. Mereka meyakinkan ulun supaya berani mencoba. Dukungan itu membuat ulun perlahan-lahan menghilangkan rasa ragu. Akhirnya, ulun memutuskan untuk menerima kesempatan tersebut.
Latihan pun dimulai. Setiap kali latihan, ulun belajar mengatur gerakan tangan sesuai dengan tempo lagu. Kada jarang ulun merasa gugup ketika berdiri di depan kawan-kawan. Ada rasa takut melakukan kesalahan, terutama ketika harus memberikan aba-aba kepada seluruh anggota paduan suara.
Tetapi, semakin sering latihan, rasa gugup itu mulai berkurang. Kawan-kawan selalu memberikan dukungan dan mengikuti aba-aba yang ulun berikan. Dari situlah ulun mulai merasa nyaman.
"Ulun sadar bahwa menjadi dirigen bukan hanya tentang menggerakkan tangan, tetapi juga tentang keberanian, tanggung jawab, dan kemampuan memimpin orang lain."
Tantangan terbesar bagi ulun adalah melawan rasa takut dalam diri sorangan. Sebelum tampil, ulun masih sering membayangkan berbagai kemungkinan buruk. Takut salah, takut lupa, dan takut kada sesuai lawan irama lagu. Namun, setiap kali rasa itu muncul, ulun mencoba mengingat semua latihan yang sudah dilakukan.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Saat berdiri di depan anggota paduan suara, jantung ulun berdebar lebih kancang. Ulun menarik napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan diri. Ketika musik mulai dimainkan, tangan ulun mulai memberikan aba-aba.
Perlahan, rasa gugup berubah menjadi rasa percaya diri. Ulun mulai menikmati setiap gerakan dan suara yang terdengar dari paduan suara. Saat itu, ulun merasa bangga karena kawa ikut berpartisipasi dalam peringatan HUT RI ke-81.
Pengalaman tersebut mengajarkan banyak hal kepada ulun.
"Ulun belajar bahwa rasa gugup bukan alasan untuk mundur. Dengan latihan, dukungan dari orang lain, dan kepercayaan lawan diri sorangan, sesuatu yang awalnya terasa sulit ternyata kawa dijalani."
Menjadi bagian dari paduan suara dan dipercaya sebagai dirigen menjadi salah satu pengalaman nang kada akan ulun lupakan.
Dari sana, ulun belajar untuk berani mengambil kesempatan, bertanggung jawab, dan percaya bahwa diri ulun jua mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya ulun ragukan.
Mahasiswa PS. PAI
Angkatan 2024
.jpeg)

