CERITA MAHASISWA: DI ANTARA KATA HATI DAN LOGIKA

0

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halo, teman-teman! Perkenalkan, ulun Zulfa Syafriyanti Al Wajidah, NPM 24126210. Di sini ulun ingin berbagi cerita tentang perjalanan ulun dalam menentukan pilihan konsentrasi Fiqih, mulai dari kebingungan hingga akhirnya menemukan pilihan yang mantap di hati. Semoga cerita ini bermanfaat bagi kita semua.


Sejak semester awal, dosen sudah sering mengingatkan kami untuk mulai memikirkan konsentrasi yang ingin diambil nantinya. Katanya, semakin cepat mengenali minat sendiri, semakin mudah pula menentukan arah belajar ke depannya.

Masalahnya, ulun justru tidak tahu harus memilih yang mana.

Fiqih? Pendidikan? Atau konsentrasi lainnya? Semuanya terdengar menarik, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar membuat ulun merasa, “Nah, ini pang ulun!”

Ulun belum punya gambaran yang jelas tentang bagaimana setiap konsentrasi itu nantinya. Apa saja yang dipelajari? Bagaimana tantangannya? Dan yang paling penting, apakah ulun mampu menjalaninya?

Karena rasa penasaran itu, ulun mulai bertanya kepada beberapa kakak tingkat. Dari percakapan satu ke percakapan lainnya, ulun mencoba mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Ada yang bercerita tentang pengalaman belajarnya, ada yang menjelaskan tantangan di konsentrasi tertentu, dan ada pula yang memberikan saran berdasarkan pengalaman pribadi mereka.

Ulun mendengarkan semuanya.

Namun, setelah semua informasi terkumpul, tetap saja belum ada satu pilihan yang benar-benar menarik hati.

Waktu terus berjalan. Semester berganti, tugas semakin banyak, dan pertanyaan tentang konsentrasi sesekali kembali muncul di kepala. Sementara teman-teman mulai menunjukkan kecenderungan masing-masing, ulun masih berada di posisi yang sama: belum tahu mau ke mana.

Anehnya, ulun tidak terlalu merasa terbebani. Rasanya, konsentrasi apa pun tidak masalah. Selama masih bisa belajar dan berusaha, ulun pikir semuanya akan baik-baik saja.

Sampai akhirnya, semester empat datang membawa sesuatu yang tidak pernah ulun duga sebelumnya. Hari itu, ulun mengikuti mata kuliah Masā’il Fiqh al-Ḥadīṡah yang diampu oleh Ayahanda Bapak Drs. Izzuddin, M.Ag.

Sebenarnya, sebelum bertemu langsung di kelas, ulun sudah cukup sering mendengar cerita tentang beliau. Tentang kegemaran beliau membaca dan mengoleksi buku, juga tentang bagaimana cara beliau mengajar. Cerita-cerita itu sudah lebih dahulu sampai ke telinga ulun, bahkan sebelum ulun benar-benar merasakan sendiri suasana perkuliahannya.

Ibarat menonton film yang sudah diberi banyak spoiler, seharusnya tidak banyak lagi hal yang mengejutkan.

Namun, ternyata ulun salah.

Ketika pertama kali mengikuti perkuliahan beliau, ada rasa kagum yang sulit dijelaskan. Cara beliau menyampaikan materi, keluasan pengetahuan yang terlihat dari penjelasannya, serta bagaimana pembahasan fiqih terasa begitu menarik membuat ulun terdiam dalam kekaguman sendiri.

Masyaallah, ternyata belajar fiqih bisa semenarik ini.

Sejak saat itu, ada sesuatu yang perlahan berubah dalam diri ulun.

Mata kuliah yang awalnya hanya menjadi bagian dari jadwal perkuliahan mulai terasa lebih istimewa. Ulun mulai membayangkan bagaimana rasanya mendalami ilmu fiqih lebih jauh, memahami persoalan-persoalan hukum Islam, dan belajar melihat suatu masalah dari sudut pandang yang lebih luas.

Untuk pertama kalinya, dari sekian banyak pilihan yang selama ini terdengar sama-sama menarik, ada satu yang mulai membuat hati ulun condong.

Konsentrasi fiqih.

Akhirnya, ulun menemukan satu pilihan yang terasa berbeda.

Namun, menemukan pilihan ternyata tidak serta-merta menghilangkan keraguan.

Justru setelah mulai mantap memilih konsentrasi fiqih, muncul pertanyaan-pertanyaan baru yang membuat ulun berpikir berkali-kali.

*Bisa kah ulun mengikuti pelajarannya?*

*Bisa kah ulun mengejar ketertinggalan?*

*Kalau nanti menjadi guru, bisa kah ulun mengajarkan ilmunya kepada murid-murid?*

Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan. Semasa sekolah, ulun belum pernah mendapatkan mata pelajaran Ushul Fiqih. Akibatnya, ulun belum mempunyai gambaran yang cukup tentang materi tersebut, apalagi membayangkan bagaimana nantinya harus mempelajarinya secara lebih mendalam.

Memang, sekarang ulun sambil mondok dan mulai belajar Ushul Fiqih di pondok. Sedikit demi sedikit, ulun mulai mengenal ilmu yang sebelumnya terasa asing. Akan tetapi, rasa khawatir itu sesekali tetap muncul.

Kadang, ketika memikirkan materi yang belum ulun pahami, hati mulai bertanya-tanya lagi.

Jangan-jangan ulun tidak mampu.

Jangan-jangan nanti ulun malah kesulitan sendiri.

Ada kalanya ulun merasa takut sebelum benar-benar mencoba. Seolah-olah ulun sudah membayangkan kegagalan, padahal perjalanan itu sendiri belum dimulai sepenuhnya.

Namun, setiap kali keraguan datang, ulun mencoba mengingat kembali alasan mengapa pilihan ini muncul. Ulun tidak memilih fiqih hanya karena ikut-ikutan teman, apalagi semata-mata karena cerita orang lain. Ada ketertarikan yang tumbuh dari pengalaman belajar, ada rasa kagum yang kemudian berubah menjadi keinginan untuk memahami lebih jauh.

Dan bukankah memilih sesuatu yang disukai juga berarti bersedia menghadapi kesulitannya?

Akhirnya, ulun memutuskan untuk tidak menjadikan ketidaktahuan sebagai alasan untuk mundur.

Kalau memang masih banyak yang belum dipahami, berarti ulun harus lebih banyak belajar. Kalau masih tertinggal, berarti ulun perlu berusaha mengejar. Kalau ada materi yang membingungkan, ulun bisa bertanya kepada guru dan mencari penjelasan dari buku-buku yang tersedia.

Alhamdulillah, keputusan itu perlahan membuat ulun lebih bersemangat. Ulun mulai membiasakan diri membaca, mencari referensi, dan bertanya ketika ada hal yang belum dipahami. Ulun tahu perjalanan ini mungkin tidak selalu mudah, tetapi setidaknya sekarang ulun sudah memiliki arah yang ingin dituju.

Meski begitu, ketika ditanya siapa yang paling berpengaruh dalam keputusan ulun memilih konsentrasi, jawabannya mungkin terdengar sederhana.

Ulun sendiri.

Tentu, ada banyak orang yang memberikan informasi, cerita, dan masukan. Dosen memberikan pengalaman belajar yang membuka pandangan baru. Kakak tingkat membantu memberikan gambaran tentang konsentrasi. Guru di pondok pun ikut membantu ulun memahami ilmu yang sebelumnya terasa asing.

Namun, pada akhirnya, ulun sendiri yang harus mempertimbangkan semuanya dan menentukan pilihan. Dalam proses itu, ulun bahkan mencoba menggunakan analisis SWOT. Ulun memikirkan kekuatan yang dimiliki, kelemahan yang perlu diperbaiki, peluang yang bisa dimanfaatkan, serta tantangan yang mungkin akan dihadapi.

Jadi, keputusan ini bukan semata-mata karena kata hati yang tiba-tiba berbicara. Ada pertimbangan yang ulun susun, ada kemungkinan yang ulun pikirkan, dan ada konsekuensi yang harus ulun siapkan.

Kata hati memberikan arah, sementara logika membantu ulun melihat apakah arah tersebut layak untuk diperjuangkan.

Sekarang, ketika mengingat kembali masa-masa awal kuliah, ulun tersenyum sendiri. Dulu, pertanyaan tentang konsentrasi terasa seperti soal yang tidak memiliki jawaban. Ulun bertanya ke sana kemari, mengumpulkan informasi, tetapi tetap tidak menemukan pilihan yang pasti.

Ternyata, jawaban itu tidak selalu datang dari banyaknya pendapat orang lain. Terkadang, ia muncul ketika kita menjalani sendiri sebuah pengalaman, bertemu dengan sesuatu yang membuat kita tertarik, lalu perlahan mengenali apa yang benar-benar ingin kita pelajari.

Ulun memang belum mengetahui seluruh tantangan yang menunggu di depan. Masih ada banyak materi yang harus dipahami, banyak pertanyaan yang perlu dijawab, dan banyak kemampuan yang harus dikembangkan.

Namun, sekarang ulun tidak lagi hanya bertanya, “Konsentrasi mana yang paling mudah?”

Ulun mulai bertanya, “Konsentrasi mana yang ingin ulun pelajari dengan sungguh-sungguh, meskipun nantinya tidak selalu mudah?”

Dan untuk saat ini, jawaban ulun tetap sama: fiqih.

Bukan karena ulun merasa sudah mampu, melainkan karena ulun ingin terus belajar sampai mampu.

Sebab, bagi ulun, memilih jalan bukan berarti harus mengetahui seluruh isi perjalanan sejak awal. Terkadang, kita hanya perlu menemukan alasan yang cukup kuat untuk melangkah, kemudian berusaha agar tidak berhenti hanya karena takut menghadapi kesulitan.

Pada akhirnya, ulun belajar satu hal dari perjalanan kecil ini:

Kata hati boleh menjadi alasan untuk memilih, tetapi kesungguhanlah yang akan menentukan seberapa jauh kita mampu melangkah.




Penulis:  Zulfa Syafriyanti 

Al Wajidah NPM. 24126210

Mahasiswa PS. PAI Angkatan 2024

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)