CERITA MAHASISWA: ABA-ABA KEBERANIAN: PERJALANANKU MENJADI DIRIGEN

0


Perkenalkan, nama saya Zaskia Eka Aulia, NPM 24.12.6345, mahasiswa Fakultas Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI). Saya ingin bercerita tentang pengalaman saya  menjadi paduan suara diacara wisuda. 

Pengalaman saya terhadap paduan suara sebenarnya sudah dimulai sejak saya berada di pondok pesantren. Saat itu, saya sudah menjadi anggota paduan suara dan memiliki pengalaman dalam kegiatan tersebut. Ketika melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, saya memilih untuk kembali mengikuti paduan suara agar kemampuan yang saya miliki tetap terasah dan bisa terus berkembang.

Kesempatan itu datang ketika kampus mengadakan pemilihan anggota paduan suara untuk kegiatan 17 Agustus 2025. Awalnya saya hanya berniat menjadi anggota paduan suara seperti sebelumnya. Namun, saat pemilihan, kakak tingkat bertanya siapa yang sudah memiliki pengalaman di bidang paduan suara. Karena saya pernah berpengalaman menjadi anggota paduan suara di pondok, saya akhirnya dipercaya untuk menjadi dirigen.

Dari pengalaman tersebut, perjalanan saya sebagai dirigen pun dimulai. Setelah kegiatan 17 Agustus, dosen memilih beberapa dari kami untuk menjadi paduan suara dalam acara Wisuda Sarjana S1 ke-22. Pada wisuda ke-22, saya masih menjadi anggota paduan suara dan belum menjadi dirigen.

Kemudian pada Wisuda Sarjana S1 ke-23, saya dipercaya menjadi dirigen menggantikan kakak tingkat yang sebelumnya bertugas sebagai dirigen. Karena saya sudah pernah menjadi dirigen saat paduan suara 17 Agustus, akhirnya saya dipercaya untuk memimpin teman-teman paduan suara. Hingga pada Wisuda Sarjana S1 ke-24, saya kembali dipercaya untuk menjadi bagian dari paduan suara.

"Terkadang, keberanian bukan berarti tidak merasa takut, tetapi tetap melangkah meskipun rasa takut itu ada."

Rasa gugup dan ragu tentu saya rasakan, terutama ketika harus tampil di hadapan para dosen, guru, serta para wisudawan dan wisudawati. Saya merasa bukan hanya memimpin teman-teman paduan suara, tetapi juga harus membawa jalannya penampilan di hadapan seluruh orang yang ada di dalam gedung. Saya takut jika salah dalam mengatur tempo lagu, karena ketika dirigen salah memberikan aba-aba, paduan suara juga bisa ikut salah.

Namun, dukungan dari orang-orang terdekat membuat saya lebih percaya diri. Kedua orang tua, terutama Mama, selalu memberikan semangat setiap kali saya dipercaya untuk tampil dan maju ke depan. Teman-teman paduan suara dan Ustadzah Soraya selaku pelatih juga selalu mendukung, membimbing, dan mengajarkan kami untuk lebih percaya diri. Beliau sangat sabar dalam melatih dan mendampingi kami selama proses latihan.

"Menjadi dirigen bukan hanya tentang mengatur nada dan tempo, tetapi tentang belajar percaya pada diri sendiri ketika orang lain telah memberikan kepercayaan."

Bagi saya, pengalaman ini bukan hanya tentang tampil dalam sebuah wisuda, tetapi juga tentang proses belajar untuk berani, bertanggung jawab, dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Saya sangat berterima kasih kepada kedua orang tua, Ustadzah Soraya, dan seluruh teman-teman paduan suara yang telah memberikan dukungan dan semangat selama perjalanan ini.

Penulis: 
Zaskia Eka Aulia|
NPM. 24126345
Mahasiswa PS. PAI

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)