Selama 35 hari tinggal di Desa Sungai Bakung, Kecamatan Sungai Tabuk, Murni seakan menemukan makna baru dari apa yang selama ini ia pelajari di bangku kuliah. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah IAI Darussalam Martapura dengan NPM 22125657 ini merasakan langsung bahwa ilmu yang dulu hanya dipahami lewat teori, kini benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Awalnya, KKN hanya ia bayangkan sebagai program wajib kampus. Namun hari demi hari yang dilalui bersama teman-teman dengan karakter yang beragam perlahan mengubah cara pandangnya. Dari yang pendiam hingga yang penuh canda, semua perbedaan itu justru menjadi ruang belajar yang nyata. Ia belajar memahami, menahan diri, dan menghargai satu sama lain—sesuatu yang sebelumnya hanya ia temui dalam buku dan penjelasan dosen di kelas.
“Di kelas kami sering belajar tentang pentingnya memahami perbedaan. Tapi di KKN, kami benar-benar merasakannya,” ceritanya. Dari situlah, menurut Murni, kedewasaan mulai tumbuh. Bukan karena teori semata, tetapi karena pengalaman yang memaksanya untuk bersikap bijak dalam setiap situasi.
Hari-harinya di desa tidak pernah terasa kosong. Ia dan teman-temannya terlibat dalam berbagai kegiatan bersama masyarakat. Mulai dari gotong royong, berinteraksi dengan anak-anak, hingga menjalankan program kerja di bidang pendidikan. Di sanalah ia menyadari bahwa menjadi mahasiswa Tarbiyah bukan sekadar mampu menjelaskan materi, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam sikap dan perilaku.
Ada pula momen-momen sederhana yang justru membekas. Seperti ketika harus menghadapi kebiasaan unik teman yang berbeda dalam hal makanan. Hal kecil seperti itu, bagi Murni, justru menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana menerima perbedaan tanpa menghakimi. Dari yang awalnya terasa aneh, akhirnya berubah menjadi cerita yang menghangatkan kebersamaan.
Tak hanya itu, sosok pembakal Desa Sungai Bakung juga meninggalkan kesan mendalam baginya. Sikapnya yang terbuka, sabar, dan selalu siap membantu menjadi contoh nyata tentang arti kepemimpinan dan pengabdian. Dari sana, Murni belajar bahwa nilai-nilai tarbiyah tidak hanya diajarkan di ruang kelas, tetapi juga bisa dilihat dan dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Waktu 35 hari pun terasa berlalu begitu cepat. Di penghujung kegiatan, Murni menyadari bahwa KKN bukan sekadar tugas akademik, melainkan perjalanan yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih matang. Ia tidak hanya membawa pulang kenangan, tetapi juga pemahaman baru tentang arti belajar yang sesungguhnya. “Ilmu yang kami pelajari di Fakultas Tarbiyah tidak hanya untuk dipahami, tetapi juga harus diamalkan,” ujarnya. Baginya, KKN adalah bukti bahwa belajar tidak selalu terjadi di dalam kelas, tetapi justru menjadi lebih bermakna ketika hadir di tengah kehidupan masyarakat.



