DAMPAK PSIKOLOGI ANAK YANG ORANG TUA BERPISAH

0


Apa yang kita ketahui tentang anak yang di sisa hidupnya hanya mendapatkan kasih sayang seorang ibu? 

Apakah perkembangan psikologi anak tersebut akan baik-baik saja? 

Rahcmad, Martapura 2024 - Di pagi hari yang cerah, tepatnya hari Ahad, Gema Aksara kembali mengadakan kegiatan rutin, yakni lapak baca gratis di Ruang Terbuka Hijau, Kompas Manis. 

Pada kesempatan kali ini, penulis sempat berbincang-bincang dengan salah satu teman yang juga anggota Gema Aksara. Topik yang kami perbincangkan adalah, bagaimana kehidupan sebelum dan sesudah orang tua berpisah (broken home). Karena kami sama-sama korban dari kehidupan fatherless (tanpa ayah), perbincangkan kali ini agak sedikit dalam, sehingga teman penulis begitu terbuka untuk menceritakan luka yang berakibat melahirkantrauma yang masih dirasakannya hingga saat ini. 

Teman penulis menuturkan, bahwa dirinya takut kepada laki-laki bahkan sulit untuk mempercayai laki-laki. Penulis pun menimpali, "saya-pun ada niatan tak mau menikah dan juga sulit untuk mempercayai orang lain (trust issue)". Sambil memutar lagu dari playlist kesukaannya, angin pun ikut berhembus seakan membawa percakapan ini semakin dalam. 

"bahkan untuk biaya perceraian ibu ulun (saya) pun, ulun yang membiayai," tutur dia. Penulis pun sontak kaget, baru kali ini penulis memiliki teman yang membantu membiayai perceraian kedua orangtuanya. "Tapi banyak hikmah yang ulun dapatkan, salah satunya ulun dapat gawian (pekerjaan) dan dapat mondok selama tujuh tahun." Pahitnya hidup bagaikan kopi yang diseduh dengan gula, walaupun kelihatan hitam, namun rasa manis dari kopi tersebut masih dapat terasa, seperti itulah hidup. Hitam atau gelapnya langit menandakan hujan akan turun ke bumi, lalu menumbuhkan berbagai kebahagian. 

Penulis jadi teringat tulisan salah satu penyair asal Jogja yang baru-baru ini telah meninggal dunia, yakni Joko Pinurbo: 

"baru mau sedih, sudah harus bahagia lagi". 

Ya, kehidupan seperti roda yang berputar, hari ini sedih, besok tiba-tiba sudah bahagia. Absennya sosok seorang ayah di dalam kehidupan membuat rasa minder yang ada pada diri penulis sampai sekarang tak dapat hilang. 

Bukan minder karena teman-teman penulis memiliki orangtua yang lengkap, namun minder karena teman-teman yang lain dapat berbicara dengan lancar, sehingga lawan bicara pun paham. Selama ini benang kusut yang ada di kepala penulis belum pernah sama sekali diluruskan, karena memang tak ada yang memahami penulis ketika berbicara. Sehingga penulis kesulitan mengidentifikasi masalah yang ada pada diri penulis, saking kusutnya. 

Memang menyedihkan, anak-anak yang yang menjadi korban perceraian, harus tumbuh dewasa dengan diiringi berbagai masalah psikologis. Sehingga kesulitan untuk menghadapi masalah kecil, yang notabene masalah tersebut dapat diselesaikan dengan mudah oleh mereka yang memang dapat merasakan peran dari kedua orangtuanya.

Foto kegiatan rutinan gema aksara di mushola kampus

Untuk itu, tak ada salahnya mendengarkan mereka, gunakanlah ilmu mendengar sebaik mungkin ketika mereka berbicara. Menjadi pendengar yang baik sudah cukup membuat mereka memiliki harapan untuk hidup, kemudian juga dapat membantu mereka meluruskan benang kusut, yang selama ini berada di dalam kepala mereka. 

Gelar Ayah hanya untuk laki-laki yang mau dan pandai dalam mengasuh, merawat dan mendidik anak. Jika teman-teman merasakan hidup tanpa peran seorang Ayah, baik itu dalam keadaan meninggal dunia maupun berpisah. 

Maka carilah penggantinya. Salah satunya orang yang bisa menjadi penggantinya adalah seorang Guru, apalagi Guru yang memahami gerak-gerik hati seorang murid. Insya Allah hidup akan selalu dibimbing ke jalan kebaikan. 

Setelah panjang lebar membahas masalah ini, teman-teman yang lain mulai berdatangan. Kami pun akhirnya memulai topik yang baru, yakni tentang revolusi Iran. "Labbaika Ya Husein", inilah yang penulis dengar ketika malam 10 Muharram tahun lalu, saat penulis diajak untuk mengikuti acara "Syahadah Imam Husein" di Banjarmasin. Syair demi syair (maktam) dilantunkan untuk mengenang kesyahidan Sayyidina Husain, isak tangis pun terdengar dari belakang penulis, yakni terdengar dari kebanyakan jamaah perempuan. Bagaimana mungkin air mata tidak meleleh? Bayi yang sedang kehausan malah dibunuh dengan kejam, bahkan penulis pun merasakan kesedihan yang sama. 

Inilah salah satu cuplikan tragedi di 10 Muharram yang kemudian dijadikan syair atau maktam, yang membuat kami menangis: Ketika Sayyidina Husein membawa anaknya, yakni Ali Akbar menuju pasukan musuh. Kemudian beliau mengangkat si bayi (Ali Akbar) hingga semua orang bisa melihat. Kemudian Sayyidina Husein berkata, "kalau kalian ingin berperang denganku silahkan, tapi bayi ini tak berdosa padamu dan engkau tak berhak untuk memeranginya. Ambil bayi ini dan beri dia air." 

Pasukan musuh bicara satu sama lain, beberapa di antara mereka setuju, yang lainnya tak setuju. Kemudian Umar menyuruh budaknya, Harmalah, seraya berkata, "selesaikan masalah ini! Sekarang!

Bukannya diberi sekantong air, Harmalah sesuai instruksi yang diterimanya mulai melepaskan tiga kali anak panah yang kemudian mengenai jantung bayi yang tidak berdosa itu. Dan bayi itu pun seketika meninggal dipelukan Sayyidina Husein. Sayyidina Husein menadah darah bayinya dengan kedua telapak tangan lantas menaburkan ke langit. Dia kemudian berkata, 

"Ya Allah! Engkau saksi dari apa yang telah mereka perbuat!


Begitu tragis, pertama kali mengikuti acara ini dan tak akan penulis lupakan. Alasan penulis menerima ajakan untuk mengikuti acara ini adalah untuk mengetahui seperti apa ritual Syiah ketika 10 Muharram, apakah sama seperti yang diberitakan di media-media? Apalagi penulis sedang menempuh kuliah dengan program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang insya Allah akan menjadi seorang guru. 

Maka dari itu supaya dapat menjawab pertanyaan para murid nanti dengan objektif, penulis pun pelan-pelan menelusuri jejak demi jejak perbedaan dalam berbagai aspek keagamaan, bahkan di luar agama Islam sekalipun.

Sambil memegang buku yang berjudul "Karbala", penulis pun diminta duluan untuk memulai pembicaraan berikutnya, yakni mengenai revolusi Iran. Karena memang revolusi Iran dipimpin oleh Imam Syiah, yang kala itu beliau menggunakan spirit "Syahadah Imam Husein di Karbala" untuk meruntuhkan kedigdayaan rezim Pahlevi. 

Dunia internasional bahkan menyebut revolusi di tahun 1979 ini sebagai kebangkitan fundamentalisme Syiah, "hal ini menjadi bahan propaganda AS untuk menakut-nakuti dunia, apalagi mengenai isu sunni-syiah yang digaungkan oleh mereka (AS). Sehingga ulama kharismatik asal Mesir yakni Syekh Ramadhan al-Bouthi meninggal ketika mengisi pengajian tafsir, akibat dibom karena isu ini," ucap penulis menambahkan. 

Revolusi Iran tidak disebabkan oleh kekalahan dalam perang, krisis moneter, pemberontakan kaum buruh dan petani, atau ketidakpuasan militer. Melainkan keinginan Imam Khomeini untuk menolak semua sistem pemerintahan yang diadopsi dari barat. Revolusi ini menghasilkan perubahan yang sangat besar dengan waktu yang lumayan singkat. Pahlevi terkenal dengan kediktatoran, kegelamoran & pembungkamannya. 

Pemerintahannya menggunakan sistem sekuler barat, sehingga mempersempit gerak Ulama' di Iran. Tidak cukup sampai di situ, bahkan ia mempersilahkan Inggris untuk mengambil tempat di Iran. 

Akhirnya perusahaan-perusahaan minyak di Iran dikuasai kembali oleh asing, hal tersebut membuat kondisi ekonomi di Iran melemah. Karena ekonomi di Iran hanya bergantung pada sumber daya alamnya yakni minyak. 

Jika di era presiden Soeharto ada penembak misterius (Petrus), maka untuk menjaga stabilitas kekuasaannya, Pahlevi membentuk badan keamanan "Savak" dengan dibantu badan intelijen CIA dan Mossad pada tahun 1957.

Savak dikenal banyak menculik bahkan dengan tega membunuh orang-orang yang menentang kekuasaan Pahlevi. Pada revolusi Iran kita akan melihat bagaimana seorang yang sudah tua renta masih mampu mengerahkan seluruh tenaga, pikiran dan waktunya untuk menggerakkan rakyat dalam meruntuhkan sebuah rezim yang dilindungi oleh angkatan bersenjata yang dibiayai besar-besaran oleh AS beserta pasukan keamanannya. Diasingkannya beliau (Imam Khomeini) selama 15 tahun tak membuatnya patah semangat, walaupun di dalam usianya yang 80 tahun. Ia meminta Khutbah-khutbahnya untuk direkam dan disebarkan, agar api semangat rakyat Iran untuk meruntuhkan rezim Pahlevi tak padam. 

Jika kesedihan pada fatherless mengakibatkan banyak yang hidup berada di tepi jurang keputusasaan, maka kesedihan akan syahidnya Imam Husein di Karbala membuahkan spirit revolusi Iran. Hanya kita yang dapat mengolah kesedihan itu menjadi semangat berjuang untuk menghadapi segala kegetiran hidup. Kalau teman-teman sedang bersedih, apa yang teman-teman lakukan untuk menghilangkan kesedihan tersebut?.

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)