DIMANA KERJA DAN NYATANYA KKN: SECARIK PENGALAMAN

0

Al-Ghozi, Banjarbaru 2024 - Pada tanggal 30 Januari hingga 18 Maret 2024 yang lalu, para mahasiswa Institut Agama Islam Darussalam melaksanakan sebuah program pengabdian yang menjadi sebuah tradisi perguruan tinggi dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Para Mahasiswa yang berlatar belakang fakultas dan prodi yang berbeda menyebar menjadi puluhan kelompok untuk mencurahkan pengetahuan dan keterampilannya ke desa-desa yang berada dalam teritorial Kabupaten Banjar. 

Penyelenggaraan sebuah tradisi tersebut dinamakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan penulis sendiri adalah salah satu peserta KKN-32 Institut Agama Islam Darussalam Martapura yang diletakkan di Desa Jingah Habang Ulu, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Menanggapi pengalaman penulis yang telah melalui kegiatan KKN tersebut, penulis yang beridentitaskan sebagai mahasiswa tarbiyah melihat kompleksitas masalah yang terdapat pada kemampuan penulis pada saat berkegiatan di lokasi KKN. 

Salah satunya ternyata ketika penulis ingin mengaplikasikan teori yang penulis telan selama beberapa kurun tahun sebelumnya dengan menguliti semester tiap semester yang berisikan materi-materi rumit, sama sekali tidak tersampaikan kepada masyarakat disana, singkatnya itulah permasalahannya.

Tepat pada saat matahari menghangatkan, kelompok penulis yang sedang menahan lapar pada bulan suci Ramadhan, yang beranggotakan 6 orang. Ibu Dr. Maulida Hayatina, M. Pd selaku dosen Supervisor KKN-32, menjemput kami sebagai tanda berakhirnya program KKN ini. 
Penyerahan Kenang-kenangan Sekaligus Penjemputan Mahasiswa KKN-32

Pada kesempatan tersebut salah satu aparat desa yang sering dipanggil dengan Bapak Romidi menyampaikan. 
Ada dari kalangan ibu-ibu menyampaikan, bisakah waktu kalian KKN ini diperpanjang, seru kata mereka tarawih bersama buhan (orang-orang) KKN.” Papar Bapak Romidi. 
Pada akhirnya penulis memahami bahwa hidangan mewah bagi masyarakat pada saat KKN bukan pada rumitnya teori, tingginya bahasa dan indahnya sastra, tetapi hidangan mewah tersebut adalah bagaimana berbaur dan menyatu dengan mereka tanpa menjelaskan bahwa yang di hadapan mereka ini adalah mahasiswa, tidak juga sebagai penyandang puluhan teori, tidak juga sebagai seseorang yang akan menyandang gelar sarjana tetapi sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri, yang memegang nilai-nilai moral dan keterampilan tradisi mereka. 

Bagi masyarakat desa ketika para mahasiswa berkunjung bersenda gurau adalah sebuah momen yang ditunggu mereka, bagaimana mereka menceritakan kesehariannya?, bertanya tentang perjalanan kita sebagai mahasiswa?, kemudian mereka mengingat dengan senyuman yang tampak pada mata mereka, bahwa mereka memiliki anak yang seumuran para mahasiswa tersebut. 

Terkadang terlintas pada pikiran penulis, mereka seperti itu hanya sekedar mengobati kerinduan kebersamaan bersama anak-anaknya dahulu yang kini mungkin sudah berkeluarga atau merantau jauh keluar dari desa. Mereka melihat cita-cita dan harapan yang pernah membersamai di sela-sela kehidupan mereka pada saat itu. 

Kedekatan Antara KKN dan Anak-anak Dalam Rangka Bermain Sambil Belajar 

Anak-anak yang hampir umurnya mencapai belasan, menganggap mahasiswa adalah teman bermain baru. Mereka mengajak berjalan mengelilingi kebun, memamerkan mainan yang dibawanya, bahkan mengajak ke sungai dan berenang sekedar untuk mandi. 

Hari ini, sudah berlalu KKN-32 tetapi undangan berbagai undangan acara rumahan terus mereka sampaikan. Mungkin penulis bersama teman-teman KKN membuat papan untuk batas RT ataupun papan pada sekolah untuk penanda kelas yang berada di desa, ternyata secara tidak langsung papan nama kami yang bertuliskan kenangan juga tertempel pada hati masyarakat desa. 

Mengutip kata-kata Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia yang penulis baca pada saat beristirahat di posko KKN. 
"Kalau suatu ketika ada orang meminta pendapatmu, apakah Ki Hajar Dewantara itu seorang nasionalis, radikalis, sosialis, demokrat, humanis, ataukah tradisionalis, maka katakanlah bahwa aku hanyalah orang Indonesia biasa saja yang bekerja untuk bangsa Indonesia dengan cara Indonesia". 
Berlalunya program KKN tersebut mengubah cara pandang penulis pada masalah yang awalnya tidak tersampaikannya teori-teori yang dipelajari kepada masyarakat menjadi sebuah pertanyaan yang terus bergelantungan. Apakah penulis semakin paham akan teori-teori yang bersemayam pada benak penulis selama ini? Apakah teori-teori tersebut hanya didiamkan dan menjadi bangkai yang tidak berguna?.










Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)