APAKAH KEGIATAN PPL-B HANYA SEKEDAR MENGAJAR?

0

Al-Ghozi, Banjarbaru 2023- Dilema yang dialami oleh mahasiswa semester akhir tentu berbeda jauh jika dibandingkan dengan dilema mahasiswa baru yang sekedar bingung menentukan kafe mana lagi yang harus ia tengok bersama teman barunya. Dilema dari teman-teman mahasiswa akhir yaitu berada dalam ambang kebingungan untuk menentukan sebuah judul penelitian, kapan harus memulainya dan dari mana ia harus memulainya. Apakah menunggu seluruh kegiatan tuntas seperti PPL B yang akan ia hadapi atau ia mulai menggarap secepat mungkin setelah itu judul seperti apa yang harus ia angkat? Padahal kita seringkali terlintas dalam benak kita secara sadar maupun tidak atas sebuah kebingungan pada sesuatu hal seperti, “Kenapa ia berperilaku seperti itu?” “Bukannya harus seperti ini?” “Apakah hal itu sudah benar?” Gambaran-gambaran pertanyaan itu muncul karena manusia selalu menginginkan sebuah jawaban kebenaran atas sesuatu hal bukan kesalahan dan penyimpangan.


Maka dengan adanya bekal teoritis pada pembelajaran kelas yang telah kita lewati berkombinasi dengan perjalanan praktek (PPL B) yang akan dijalani kedepan akan membuat ledakan pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan pada benak kita tanpa henti, dengan sebab bertolak belakangnya realita di sekolah dengan konsep yang telah kita pelajari. Di sanalah bibit-bibit abstrak judul atau topik penelitian muncul. Untuk memperjelas keabstrakan tersebut maka kita sebagai peneliti menimbang topik penelitian yang telah kita padukan dari hasil pertanyaan di dalam benak kita dengan beberapa pertanyaan berikut:

Apakah topik penelitian terlalu luas?

  • Apakah topik dapat diteliti?

Apakah data dapat dianalisis?

  • Apakah masalahnya penting?

Apakah biaya penelitiannya terjangkau?

  • Apakah penelitiannya mengandung bahaya?

Apakah topik penelitian terlalu luas?


Dalam penelitian, peneliti harus membatasi topiknya  pada daerah maupun tempat atau aspek yang sempit. Jika topik tersebut mencakup keseluruhan pada aspek tertentu maka hal tersebut sudah dikatakan luas. Sebagai contoh topik yang dikatakan luas seperti pada saat penulis meminta arahan kepada Bapa Mihrab, M.Pd untuk saran pada judul penelitian penulis sendiri, maka beliau memberikan contoh pada serial kartun anak-anak Upin & Ipin dan pengaruhnya pada pembentukkan karakter anak-anak. Maka batasi cukup pada satu  episode yang perlu diteliti dan tidak pada beberapa episode langsung karena itu akan terlalu luas. Sebagai contoh lain, masih dengan pengalaman penulis tetapi kali pada saat meminta arahan kepada Bapa Miftah Arief M.Pd. Penulis yang berlatar belakang konsentrasi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) ingin meneliti situs-situs bersejarah di Kabupaten Banjar yang penulis ketahui. Sama seperti saran sebelumnya bahwa topik itu terlalu luas, beliau mencontohkan cukup situs sejarah Masjid Sultan Suriyansyah yang menjadi topik penelitian, bukan keseluruhan situs-situs bersejarah yang terlalu banyak sehingga topik penelitian terlalu luas.


Apakah topik dapat diteliti?

Suatu topik penelitian akan menjadi tidak cocok diteliti dengan sebab pertanyaan penelitian tersebut tidak memiliki jawaban atau sekurang-kurangnya sangat minim mendapatkan fasilitas serta informasi yang tersedia. Misalnya pada saat penulis mendampingi teman penulis yaitu saudara Ahmad Nasir untuk meminta saran menanyakan topik penelitian kepada Bapa Miftah Arief M.Pd yang bertujuan mengetahui relevansi sebuah metode terhadap pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di sekolahan tertentu, meski menuai pujian atas bagusnya topik tersebut, saudara Ahmad Nasir juga mendapat arahan bahwa sebelum mengambil judul tersebut, apakah guru SKI di sekolahan tersebut menggunakan metode pembelajaran tersebut? Pada akhirnya dengan alasan kelangkaan metode tersebut digunakan pada pembelajaran SKI membuat topik menjadi tidak cocok diteliti.

 


Apakah data dapat dianalisis?

Topik penelitian tidak akan menjadi sebuah penelitian yang produktif apabila data yang didapatkan tidak bisa diukur kevalidan dan kepercayaannya. Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui pengaruh game Mobile Legends terhadap hasil nilai siswa yang ia diperoleh, maka peneliti  sangat harus mempertimbangkan informasi yang didapatkan dari siswa tersebut apakah siswa akan menjawab secara jujur dan dipercaya. Penelitian pengaruh game tersebut juga tidak dapat diterima  jika yang partisipan siswa yang terlibat hanya lima orang sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisasi.


Tentang data juga sangat berkaitan dengan kemampuan peneliti terhadap pengetahuan dan pengalamannya pada statistik. Apakah peneliti memahami penggunaan statistik yang akan digunakannya bahkan peneliti menggunakan statistik yang jika diukur dengan kemampuannya adalah prosedur yang rumit karena tidak pernah peneliti tersebut menggunakannya. Dengan alasan tersebut hanya akan membuat adanya kesalahan dalam menghitung dan interpretasi data. Terlebih lagi karena hanya ingin ikut-ikutan teman yang pada akhirnya mendapatkan kebingungan di tengah perjalanan penelitian.


Apakah masalahnya penting?

Setelah itu topik penelitian kita timbang kembali dengan asas kebermanfaatannya  dan seberapa berharganya nilai penelitian tersebut. Misalnya dengan pertanyaan, apakah dengan topik penelitian tersebut akan membantu khalayak banyak untuk memecahkan suatu permasalahan dalam lingkup mereka? Seperti penggunaan metode, pemanfaatan bahan ajar bahkan kebergunaan fasilitas pada sekolahan tertentu. Selain itu kita mendalami sebuah refleksi untuk kesadaran kita, sebenarnya apa tujuan penelitian yang kita lakukan? Dengan pertanyaan tersebut akan membuat kita fokus terhadap penelitian tersebut. Apakah kita mengikhtiarkan penelitian tersebut untuk skripsi atau memperlangsungkan manfaat dari penelitian tersebut untuk diri kita sendiri dan orang lain? 


Apakah biaya penelitiannya terjangkau?

Rencana penelitian juga harus melibatkan biaya yang akan dikeluarkan pada penelitian tersebut. Tentu saja otak kita mampu memikirkan ide topik penelitian secemerlang mungkin, tetapi duit bensin dan lainnya tidak mencukupi untuk melakukan penelitian tersebut. Maka kita juga harus memiliki beberapa opsi lain terhadap rencana penelitian kita, seperti menggunakan alat komunikasi berupa smartphone dan sejenisnya untuk mewawancarai narasumber yang letaknya jauh dari keberadaan kita. Begitu juga waktu penelitian yang diatur sedemikian rupa akan berpengaruh terhadap biaya yang kita keluarkan, misalnya kita mengulangi perjalanan ke sekolahan yang kita teliti dua kali, karena salah mengatur waktu yang mana pada saat itu adalah waktu libur sekolah, maka harus mengulangi di kemudian hari untuk melakukan observasi tentunya pengeluaran biaya juga akan terulang dua kali.


 

Apakah penelitiannya mengandung bahaya?

Selain itu kita juga harus mempertimbangkan dampak bahaya dari penelitian tersebut. Tentu saja tekad yang dimiliki oleh mahasiswa sangat kuat, ambisinya seakan-akan ingin mengubah dunia di sekitarnya, tetapi juga harus disadari kemampuan dirinya terlebih khusus kesehatan dirinya. Sebagai contoh seseorang yang ingin meneliti sekolahan pada Desa Juhu yang berada di Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Untuk mencapai ke daerah tersebut harus melalui hutan-hutan di Pegunungan Meratus selama dua hari. Meskipun dana yang dimilikinya memadai untuk menuju kesana tetapi kondisi fisik dan pengetahuannya terhadap alam membuat rencana penelitian tersebut membahayakan hidupnya bahkan mungkin saja rekannya juga terkena dampak karena terlibat langsung dengan penelitian tersebut. Maka hendaknya kita memastikan topik penelitian tidak membahayakan kondisi fisik kita. 

Referensi:

Morissan. Riset Kualitatif. Jakarta: Prenada Media Group. 2019.

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)